hari ini tingkat ke sedengannya memuncak. dasar anak gila, ia lagi-lagi melakukan hal yang sensasional. ia menghampiri salah seorang sahabatnya, mendekat dan membisikkan sesuatu dengan lirih. beberapa temannya yang lain memandangnya heran. sahabat yang ia bisikkan secuil ulahnya itu, hanya tersenyum dan mengiyakan saja apa omongannya. "janji ya, tolong sampein ke dia. aku tunggu kabar selanjutnya" serunya sambil cekikian. teman-temannya yang lain semakin terheran-heran dengan tingkahnya itu.
esok paginya ia segera mencari sahabatnya itu, "gimana, gimana? cerita dia bilang apa?" gairah penasarannya memuncak lagi. "kamu tahu ia kegirangan mendapat salam darimu!" jawab sahabatnya itu. oh... rupanya yang ia bisikkan pada sahabatnya itu adalah ia menitipkan salam untuk salah seorang teman SMPnya sahabatnya itu. cowok yang tulisan dan segala ucapannya digandrungi banyak orang.
lalu apakah ia puas dengan tindakan gila yang baru saja ia perbuat, tentu saja tidak. ia makin menggila dan berupaya melakukan hal yang lebih dari itu. ia sadar apa yang akan dilakukannya itu akan membuatnya terbelilit dalam situasi tak menyenangkan. ah... sudahlah toh ia juga sudah terbiasa menerima gosip-gosip aneh yang beredar tentangnya dan lelaki yang dikabarkan dekat dengannya. baginya yang terpenting adalah itu tak sungguh terjadi.
beberapa minggu kemudian, ia kembali melakukan hal sinting lagi. ia kembali meminta sahabatnya untuk menyampaikan salam pada cowok itu. akan tetapi, hasil yang ia dapat tidak seperti yang ia bayangkan. justru membuatnya kecewa, amat kecewa. cowok itu sudah tidak segirang kemarin, ia cenderung tidak peduli. kesal? tentu saja ia kesal.
kini ia telah mencapai titik kekesalannya, ia kapok dan menguatkan hatinya. menguatkan bahwa 'mungkin saja' itu kali terakhirnya ia mengirim salam untuk cowok nun jauh disana.
si gila telah mendapat ganjarannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar