Rabu, 22 Februari 2017

Kamu

Dear Kamu,


Posting pertama dan surat cinta pertama di bulan ini ya. Kalau mau dihitung, mungkin sudah lama sekali ya.


Hai,
Apa kabar?


Mungkin kalimat sapaan itu hanya sekedar angin lalu atau dianggap sebelah mata. Suatu sapaan basa-basi. Tapi bagi saya, itu lebih dari sekedar basa-basi.

Kamu apa kabar?


Kalau dipikir-pikir, sudah banyak masa yang sudah terlewati begitu saja ya.
Sudah banyak hal yang berlalu.
Dan banyak orang-orang hilir mudik atau keluar-masuk kehidupan kita.
Beberapa dari kita mungkin sudah banyak yang berubah.
Bukan orang yang sama seperti masa itu.

Tapi, bisa jadi, mungkin saja, saya masih orang yang sama.
Orang yang masih menyimpan sedikit perasaan yang sama.
Meskipun itu hanya sedikit.
Meskipun sedikitnya seperti debu di udara.
Tapi tetap saja, masih ada perasaan itu.

Sesekali, walau hanya sedikit kali, kenanganmu masih kembali.
Menyusup diam-diam dalam benakku.
Bahkan perasaan apa ini namanya, saya masih sulit memahami.

Untuk tatapan dan senyum hangat yang masih saja sama seperti masa itu.

Bagaimana waktu bisa berjalan sebegitu cepatnya?
Bagaimana walaupun hanya sesekali, saya masih mengenangmu?

Perasaan kecewakah ini?
Kecewa atas kesempatan yang dilewatkan begitu saja.

Atau, rasa penyesalan dan memaafkan yang belum usai adanya.

Bukan memaafkan sikapmu.

Tapi memaafkan diri saya sendiri.
Atas segala khilaf yang saya lakukan.
Atas perasaan yang saya kubur dalam-dalam.
Atas kebohongan dan kenaifan saya.
Atas semua perbuatan menyakitkan yang saya lakukan,

Lukanya bukan hanya menyayat saya.
Tapi,

Kamu juga,

Bagaimana cinta bisa indah dan menyakitkan di saat yang sama?
Bagaimana waktu juga yang menyembuhkan dan menutup perlahan semua luka itu?

Dan, bagaimana kita bisa berakhir seperti ini?

Untuk kamu nun jauh dari pandanganku.

Bisakah kita duduk bersama, minum teh, berbincang, dan tertawa bersama.
Tapi untuk kali ini,
kali ini saja,
bukan sebagai sepasang kekasih seperti dulu yang diimpikan,
Tapi sebagai rekan dan sahabat.