matahari sudah mulai kembali keperaduannya, sedangkan ia baru pulang sekolah. mukanya kucel, pakaian dan dandanannya ah tentu saja sudah tak karuan. ia bergegas pulang, otakknya telah lelah. lelah dengan sin, cos, tan yang sedari tadi menari-nari riang gembira di pikirannya.
jemputannya sudah tiba, kendaraan berwarna hijau besar datang. si pengemudi dengan setia mengantarkannya kemana saja, dan si pramugara setia mempersilahkannya masuk. yap... ia pulang menaiki bis kota yang kita kenal trans jogja yang kurang-lebih telah beroprasi tiga tahun belakangan. sayang, dewi fortuna tak memihaknya untuk hari ini. bis itu sesak. penuh dengan penumpang. beruntungnya lagi, ia harus berdiri kara semua kursi telah terisi.
"yasudah tak apa, yang penting sampai rumah lebih awal" batinnya. baru saja separuh perjalanan yang ia lalui, bis hijau itu berhenti di salah satu pos perhentian berikutnya. dari balik kaca-kaca besar dan tebal itu, ia mengenali sesosok anak kecil sekitar masih empat tahun. ia memuji anak kecil itu dalam hati, sedikit sensasi rem dadakan ulah dari sang sopir membuatnya bergoyang kesisi kanan. ia menyadari sesuatu. anak itu anak itu, "lhoh itukan adikku sendiri!!" jeritnya dalam hati, mati bulatnya tiba-tiba membesar.
betapa konyol dirinya, ia lupa pada adiknya sendiri. setelah bis hijau itu tepat berhebti di posnya, ia memanggil neneknya. neneknya? tentu saja terkejut melihatnya dan adiknya menceloteh riang melihat si kakak juga ada dalam bis hijau itu. mereka pun pulang kerumah bersama
Kamis, 02 Juni 2011
si gila dan salamnya
hari ini tingkat ke sedengannya memuncak. dasar anak gila, ia lagi-lagi melakukan hal yang sensasional. ia menghampiri salah seorang sahabatnya, mendekat dan membisikkan sesuatu dengan lirih. beberapa temannya yang lain memandangnya heran. sahabat yang ia bisikkan secuil ulahnya itu, hanya tersenyum dan mengiyakan saja apa omongannya. "janji ya, tolong sampein ke dia. aku tunggu kabar selanjutnya" serunya sambil cekikian. teman-temannya yang lain semakin terheran-heran dengan tingkahnya itu.
esok paginya ia segera mencari sahabatnya itu, "gimana, gimana? cerita dia bilang apa?" gairah penasarannya memuncak lagi. "kamu tahu ia kegirangan mendapat salam darimu!" jawab sahabatnya itu. oh... rupanya yang ia bisikkan pada sahabatnya itu adalah ia menitipkan salam untuk salah seorang teman SMPnya sahabatnya itu. cowok yang tulisan dan segala ucapannya digandrungi banyak orang.
lalu apakah ia puas dengan tindakan gila yang baru saja ia perbuat, tentu saja tidak. ia makin menggila dan berupaya melakukan hal yang lebih dari itu. ia sadar apa yang akan dilakukannya itu akan membuatnya terbelilit dalam situasi tak menyenangkan. ah... sudahlah toh ia juga sudah terbiasa menerima gosip-gosip aneh yang beredar tentangnya dan lelaki yang dikabarkan dekat dengannya. baginya yang terpenting adalah itu tak sungguh terjadi.
beberapa minggu kemudian, ia kembali melakukan hal sinting lagi. ia kembali meminta sahabatnya untuk menyampaikan salam pada cowok itu. akan tetapi, hasil yang ia dapat tidak seperti yang ia bayangkan. justru membuatnya kecewa, amat kecewa. cowok itu sudah tidak segirang kemarin, ia cenderung tidak peduli. kesal? tentu saja ia kesal.
kini ia telah mencapai titik kekesalannya, ia kapok dan menguatkan hatinya. menguatkan bahwa 'mungkin saja' itu kali terakhirnya ia mengirim salam untuk cowok nun jauh disana.
si gila telah mendapat ganjarannya...
esok paginya ia segera mencari sahabatnya itu, "gimana, gimana? cerita dia bilang apa?" gairah penasarannya memuncak lagi. "kamu tahu ia kegirangan mendapat salam darimu!" jawab sahabatnya itu. oh... rupanya yang ia bisikkan pada sahabatnya itu adalah ia menitipkan salam untuk salah seorang teman SMPnya sahabatnya itu. cowok yang tulisan dan segala ucapannya digandrungi banyak orang.
lalu apakah ia puas dengan tindakan gila yang baru saja ia perbuat, tentu saja tidak. ia makin menggila dan berupaya melakukan hal yang lebih dari itu. ia sadar apa yang akan dilakukannya itu akan membuatnya terbelilit dalam situasi tak menyenangkan. ah... sudahlah toh ia juga sudah terbiasa menerima gosip-gosip aneh yang beredar tentangnya dan lelaki yang dikabarkan dekat dengannya. baginya yang terpenting adalah itu tak sungguh terjadi.
beberapa minggu kemudian, ia kembali melakukan hal sinting lagi. ia kembali meminta sahabatnya untuk menyampaikan salam pada cowok itu. akan tetapi, hasil yang ia dapat tidak seperti yang ia bayangkan. justru membuatnya kecewa, amat kecewa. cowok itu sudah tidak segirang kemarin, ia cenderung tidak peduli. kesal? tentu saja ia kesal.
kini ia telah mencapai titik kekesalannya, ia kapok dan menguatkan hatinya. menguatkan bahwa 'mungkin saja' itu kali terakhirnya ia mengirim salam untuk cowok nun jauh disana.
si gila telah mendapat ganjarannya...
aku dan hujan
hujan malam ini begitu deras, sederas hatinya yang sedang tak menentu. ia duduk merapat di tepi jendela, terus memandang air yang berjatuhan. hatinya gusar, segala spekulasi dan asumsinya berkecamuk dihati. ia bimbang harus percaya atau tidak. ia takut ketika ia mulai mempercayai lagi, lagi dan lagi ia juga akan dikhianati oleh rasa percayanya itu. "aku membencinya, akan ku tutup pintu dan jendela itu rapat-rapat, sehingga tak ada celah lagi untuknya. menyebalkan" makinya dalam hati.
ia tak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran temannya itu, ia menyayanginya. bahkan mengaguminya juga. dilain sisi ia bimbang mungkinkah temannya dapat merasakan hal yang sama "ehm ngayal" peluhnya lirih.ia terus larut dalam lamunannya dan sesekali memandang layar kecil itu, mengamati setiap kejadian-kejadian baru yang mungkin saja akan terjadi.sebelumnya ia sempat memaki kesal dengan bahasa asing, lega hatinya.
tiba-tiba tatapan matanya terpusat pada serentetan barisan kalimat-kalimat itu. "aku disindir eh ini?" dasar gairah percaya dirinya malah makin menggila. ia tersenyum senang, ia tak peduli orang mengatakannya orang sedeng. ia menikmati setiap hujatan-hujatan dari deretan kalimat itu. ia sudah merasa kebal, "ulurkan saja seperti benang, toh itu akan terus berulang". ia sudah mulai tak peduli, hatinya kini telah lega, jeritan hatinya telah diutarakan pada teman dekatnya. "oh sudah malam, besok harus menjadi pagi yang menyenangkan, eh bukan tapi hari yang menyenangkan juga" senyumnya mengembang, lagu-lagu dari radio di pojok kamarnya pun mengantarkannya ke dunia mimpi
ia tak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran temannya itu, ia menyayanginya. bahkan mengaguminya juga. dilain sisi ia bimbang mungkinkah temannya dapat merasakan hal yang sama "ehm ngayal" peluhnya lirih.ia terus larut dalam lamunannya dan sesekali memandang layar kecil itu, mengamati setiap kejadian-kejadian baru yang mungkin saja akan terjadi.sebelumnya ia sempat memaki kesal dengan bahasa asing, lega hatinya.
tiba-tiba tatapan matanya terpusat pada serentetan barisan kalimat-kalimat itu. "aku disindir eh ini?" dasar gairah percaya dirinya malah makin menggila. ia tersenyum senang, ia tak peduli orang mengatakannya orang sedeng. ia menikmati setiap hujatan-hujatan dari deretan kalimat itu. ia sudah merasa kebal, "ulurkan saja seperti benang, toh itu akan terus berulang". ia sudah mulai tak peduli, hatinya kini telah lega, jeritan hatinya telah diutarakan pada teman dekatnya. "oh sudah malam, besok harus menjadi pagi yang menyenangkan, eh bukan tapi hari yang menyenangkan juga" senyumnya mengembang, lagu-lagu dari radio di pojok kamarnya pun mengantarkannya ke dunia mimpi
bad day
hari ini hatiku sakit banget. Sumpah kecewa rasanya. Seperti biasa diulurkan, aku yg bodoh jga emg. Tolong aku Tuhan, senin aku UKK biarkan aku konsen menghadipi UKK
Langganan:
Postingan (Atom)