Kamis, 02 Juni 2011

aku dan hujan

hujan malam ini begitu deras, sederas hatinya yang sedang tak menentu. ia duduk merapat di tepi jendela, terus memandang air yang berjatuhan. hatinya gusar, segala spekulasi dan asumsinya berkecamuk dihati. ia bimbang harus percaya atau tidak. ia takut ketika ia mulai mempercayai lagi, lagi dan lagi ia juga akan dikhianati oleh rasa percayanya itu. "aku membencinya, akan ku tutup pintu dan jendela itu rapat-rapat, sehingga tak ada celah lagi untuknya. menyebalkan" makinya dalam hati.


ia tak pernah mengerti bagaimana jalan pikiran temannya itu, ia menyayanginya. bahkan mengaguminya juga. dilain sisi ia bimbang mungkinkah temannya dapat merasakan hal yang sama "ehm ngayal" peluhnya lirih.ia terus larut dalam lamunannya dan sesekali memandang layar kecil itu, mengamati setiap kejadian-kejadian baru yang mungkin saja akan terjadi.sebelumnya ia sempat memaki kesal dengan bahasa asing, lega hatinya.


tiba-tiba tatapan matanya terpusat pada serentetan barisan kalimat-kalimat itu. "aku disindir eh ini?" dasar gairah percaya dirinya malah makin menggila. ia tersenyum senang, ia tak peduli orang mengatakannya orang sedeng. ia menikmati setiap hujatan-hujatan dari deretan kalimat itu. ia sudah merasa kebal, "ulurkan saja seperti benang, toh itu akan terus berulang". ia sudah mulai tak peduli, hatinya kini telah lega, jeritan hatinya telah diutarakan pada teman dekatnya. "oh sudah malam, besok harus menjadi pagi yang menyenangkan, eh bukan tapi hari yang menyenangkan juga" senyumnya mengembang, lagu-lagu dari radio di pojok kamarnya pun mengantarkannya ke dunia mimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar