Selasa, 03 Juli 2012

Mimi, Tutu dan Pak Ober

Di sebuah negeri kelinci dimana terdapat padang rumput yang hijau dan luas. Bunga-bunga mekar dengan indahnya. Negeri yang makmur dan aman sentosa. Rakyat kelinci saling tolong menolong dan hidup rukun.
Dua anak kelinci sedang asik bermain di alun-alun negeri kelinci. Seorang anak kelinci asik memetik bunga-bunga yang terdapat di bagian barat alun-alun negeri kelinci. Bulunya berwarna abu-abu gelap berpadu dengan abu-abu terang. Matanya yang merah bulat acap kali berkedip. Seulah senyum manis tersungging di wajahnya yang mungil.
"Mimi, kamu metik bunga buat apa sih?" tanya Tutu penasaran sambil masih mencari kupu-kupu kuning.
"Aku metik bunga buat Pak Ober yang lagi sakit. Kasian beliaukan sudah tidak punya kerabat," seru Mimi.
"Pak Ober? Kamu tidak salah Mi? Pak Oberkan... Hiii...," celetuk Tutu lalu bergidik ngeri.
"Tutu tidak boleh begitu. Gimanapun juga sesama makhluk hidup kita harus saling tolong menolong," tegas Mimi.
"Iya Mi. Maaf Tutu tidak maksud seperti itu. Kalau gitu sekalian kita bikin kue yuk buat Pak Ober," ajak Tutu antusias.
"Asik! Habis selesei metik bunga ya,"
Tak lama setelah itu. Mereka berdua langsung berbelanja bahan-bahan untuk membuat roti. Selesei berbelanja, Mimi dan Tutu segera membuat roti di bantu dengan Kak Ina. Mereka membuat cake madu. Satu jam kemudian, bau manis sungguh menggoda hidung. Kak Ina dengan hati-hati mengeluarkan cake madu dari pemanggang. Mimi dan Tutu sangat senang dan langsung menghiasi cake madu dengan gula halus dan beberapa buah strawberry segar yang tadi di petik di kebun Tutu.
Setelah cake madu dan sebuket bunga kecil, Mimi dan Tutu bergegas ke rumah Pak Ober yang berada di ujung gang rumah Mimi. Pak Ober adalah kelinci yang paling tua di negeri kelinci. Beliau hidup sendiri di sebuah rumah tua yang cukup besar. Pak Ober jarang sekali keluar rumah. Beliau begitu menutup diri dari dunia luar. Menurut kabar burung yang beredar di negeri kelinci, Pak Ober ini adalah orang yang jahat. Kelinci-kelinci lainpun tidak berani mendekat ke rumah beliau.
Dengan segenap hati Mimi dan Tutu sudah sampai di ambang pintu rumah Pak Ober. Tanpa ragu Tutu langsung mengetuk pintu. Tapi tak ada satupun yang menyaut. Mereka berdua terus memanggil Pak Ober sesekali mengetuk pintu.
"Pak Ober! Permisi Pak!" seru Tutu dam Mimi bersamaan. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Tutu. Seketika bulu kudu Tutu berdiri. Perlahan ia melirik ke belakanga tangan siapakah itu?
"Apa yang anak-anak macam kalian lakukan disini?" seru suara berat itu mengejutkan.
"Eh... Hm... Anu... Anu...," Tutu terbata-bata ketakutan. Kelinci tua itu hanya menatap mereka.
"Kami dengar Pak Ober sakit jadi kamu sengaja ke sini untuk menjenguk Pak Ober," seru Mimi memberanikan diri.
"Jadi kalian kesini ingin menjengukku?" air muka beliau yang semula menakutkan mulai berubah ramah.
"Benar Pak. Ini kami bawakan cake madu buatan kami sendiri dan sebuket bunga untuk Pak Ober. Semoga Pak ober cepat sembuh," lanjut Mimi menjelaskan.
"Maafkan kami berdua jika menganggu Pak Ober," tambah Tutu.
Kelinci tua itu rupanya Pak Ober. Pak Ober diam beberapa saat memandang Mimi dan Tutu tajam-tajam. Lalu tersenyum ramah pada mereka berdua.
"Jadi begitu, terimakasih anak-anak. Mari silakan masuk, maaf kalau berantakan," seru Pak Ober mempersilahkan Mimi dan Tutu masuk ke dalam rumah.
Mimi dan Tutu mengekor di belakang Pak Ober dan masuk ke dalam rumah. Mereka pun langsung duduk. Suasana hangat kental terasa di ruangan itu. Banyak foto-foto terpajang didinding ruangan. Lantai kayu tua rumah Pak Ober coklat mengkilap. Sepertinya hampir setiap hari dibersihkan. Tak lama kemudian Pak Ober datang dengan senampan teh bunga matahari yang masih hangat dan beberapa potongan.
Dengan cepat mereka begitu akrab dan bersendau gurau bersama. Rupanya Pak Ober tidak semenakutkan seperti yang dibayangkan. Hanya karena beliau tinggal sendiri di rumah tua ini dan jarang bertegur sapa dengan tetangga, bukan berarti beliau orang jahat. Dan kita juga tidak boleh begitu mudah percaya dengan kabar burung yang beredar.
*sekian*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar